Malu adalah satu akhlak yang menghiasi
perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah
akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang
mengarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal
jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikit pun dalam dirinya. Karena
itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib
Radiallahu Anhu, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya,
niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”
Perlu diingat, kata malu, bukan rendah diri. Rendah diri (khajal)
adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang tidak
pada tempatnya. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang untuk
tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang
Muslimah untuk belajar dan mencari ilmu.
Dari Ummu Salamah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha berkata,
“Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah,
menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, seraya berkata, “Ya
Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah
seorang wanita harus mandi bila bermimpi?” Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam menjawab, “Ya, bila ia melihat air (mani yang keluar
karena mimpi).” (HR. Bukhari).
Rasa
malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat
mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan
mulia atau hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia
miliki. Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan.
Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin
tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah Shallallahu
Alaihi Wasallam bersabda, “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang
paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling
rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah
satu cabang dari iman.” (Muttafaq ‘alaih).
Tanpa
rasa malu, seseorang akan leluasa melakukan apa pun yang ia inginkan,
meski hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hal ini
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Jika engkau tidak
lagi memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR.
Bukhari).
Benar,
ketika budaya malu tak lagi tegak dalam suatu masyarakat maka itulah
saat awal kehancuran dan kebinasaannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam menggambarkan betapa rasa malu harus dibudidayakan demi
keselamatan sebuah bangsa.
Pembagian Sifat Malu
1. Malu kepada Allah Subhnana Wata’ala.
Celaan
Allah itu di atas seluruh celaan, dan pujian Allah Subhnana Wata’ala
itu juga di atas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang
dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang
dipuji oleh Allah. Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada
yang lain. Malu
kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk ketaatan dan
menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut
dicela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula
mendekati kemaksiatan. Karenanya, malu merupakan sebagian dari iman.
2. Malu pada diri sendiri
Malunya
seseorang terhadap dirinya. Inilah salah satu bentuk malu yang di
rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak
puas dengan kekurangan, kerendahan dan kehinaan. Karena itu Anda akan
menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri,
seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu
kepada yang lain. Malu inilah yang paling sempurna karena jika pada
dirinya sendiri saja sudah demikian malu, apalagi terhadap orang lain.
3. Malu pada orang lain
Malunya
sebagian manusia kepada sebagian yang lain. Sebagaimana malunya
seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh
kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan
menyatakan ingin menikah. Ketiga
rasa malu di atas seyogyanya ditumbuhkembangkan dan dipelihara terus
menerus oleh setiap Muslim. Apalagi malu pada Allah Subhnana Wata’ala.
Sebab, malu kepada-Nya inilah yang menjadi sumber lahirnya dua jenis
malu lainnya.
Bisa
dibayangkan jika rasa malu itu hilang pada diri seseorang, maka segala
perilakunya tidak akan terkontrol. Mempertontonkan aurat dianggap tren
bahkan menjadi tontonan sehari-hari keluarga kita. Begitu hebatnya
bencana yang muncul akibat hilangnya rasa malu. Oleh karenanya, memupuk
rasa malu agar tetap terpatri erat dalam hati adalah kewajiban kita.
Waspadailah fenomena hilangnya rasa malu, agar tidak menjadi pribadi
yang hancur berantakan.
Keutamaan Rasa Malu
1. Rasa malu adalah penghalang manusia dari perbuatan dosa
Rasa
malu adalah pangkal semua kebaikan dalam kehidupan ini, sehingga
kedudukannya dalam seluruh sifat keutamaan adalah bagaikan kepala
dengan badan. Maksudnya, tanpa rasa malu maka sifat keutamaan lain akan
mati. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasa malu tidak mendatangkan selain kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman dan indikator nilai keimanan seseorang
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melewati seorang Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang rasa malu, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Biarkanlah ia memiliki rasa malu karena malu itu termasuk dalam keimanan.”(HR. Bukhari dan Muslim).
3. Rasa malu adalah inti akhlak islami
Anas Radiallahu Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,
“Setiap agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu.” (HR.Ibnu Majah)
4. Rasa malu merupakan akhlak yang sejalan dengan fitrah manusia
Rasa
malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan
Anas t bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda,
“Tidaklah ada suatu kekejian pada sesuatu perbuatan kecuali akan
menjadikannya tercela, dan tidaklah ada suatu rasa malu pada sesuatu
perbuatan kecuali akan menghiasinya.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu
hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa
malunya. Wallahu Waliyyut Taufiq

Tidak ada komentar:
Posting Komentar